Islami  

10 Bukti Allah dan Tujuan Menciptakan Manusia dan Jin dalam Kitab Diinul-Haq (Bab I)

CakrawalaSulsel – Tidak ada keselamatan melainkan kehidupan akhirat setelah kematian kecuali mengenal Allah. Bukti Allah menciptakan manusia, mengimani dan menyembahnya saja.

Anda mengenal Nabi yang diutus oleh Rabb kepadamu dan kepada seluruh manusia. Anda beriman kepadanya dan mengikutinya. Anda mengenal Diin yang benar yang Rabb anda memerintahkanmu mengimani, dan mengamalkannya.

Bukti Allah Sang Pencipta yang Maha Agung

Mengenal Allah Sang Pencipta yang Maha Agung
Mengenal Allah Sang Pencipta yang Maha Agung

Sangat penting kita manusia mengenal Allah sang pencipta. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dengan bukti-bukti nyata dan sifat Allah SWT.

Dengan bukti Allah yang maha agung yang menciptakan manusia dan jin serta membangkitkan manusia di hari kelak nanti yang namanya hari kebangkitan pada hari kiamat.

Manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, hisab, pembalasan amal perbuatan.

Diantara bukti-bukti Allah sang pencipta yang maha agung yang tertera dalam kitab Diinul-Haq adalah sebagai berikut:

Bukti pertama : Keberadaan manusia dan kehidupan

Keberadaan manusia dan kehidupan adalah sesuatu yang baru yang memiliki permulaan dan akhir, membutuhkan pada yang lain. Sedangkan sesuatu yang baru dan butuh kepada yang lain adalah makhluk, dan makhluk tentu ada yang menciptakannya, dan Pencipta (Khalik) yang Maha Agung ini adalah ( Allah ).

Dan Allah sendiri telah mengabarkan akan dzatnya yang Suci, bahwasanya Dialah Pencipta (Khalik), yang mengurus semua yang ada, dan kabar ini datangnya dari Allah SWT dalam kitab-kitabnya, yang telah diturunkan kepada para Rasulnya.

Dan Rasulullah telah menyampaikan firmannya kepada manusia, mengajak mereka untuk beriman dan beribadah hanya kepadanya.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang Agung:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Inna robbakumullohullazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, yughsyil-lailan-nahaaro yathlubuhuu hasiisaw wasy-syamsa wal-qomaro wan-nujuuma musakhkhorootim bi-amrihiii alaa lahul-kholqu wal-amr, tabaarokallohu robbul-‘aalamiin

Artinya:

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf Ayat 54)

Makna ayat ini adalah Allah mengabarkan kepada seluruh manusia bahwa Dia adalah Rabb yang telah menciptakan mereka dan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan mengabarkan bahwa Dia Bersemayam diatas Arsynya.

Tahapan dalam penciptaan, karena hikmah yang dikehendaki oleh Allah padahal Dia mampu menciptakan seluruh makhluk lebih cepat dari kejapan mata, sebab Dia telah memberitakan jika berkehendak untuk menciptakan sesuatu cukup dengan mengatakan “Jadilah” makajadilah.

Istiwa’ dalam bahasa arab yang merupakan bahasa Al-Quran maknanya: Diatas dan tinggi, sedangkan istiwa” (bersemayamnya) Allah diatas Arsynya sesuai dengan kebesarannya, dan tidak ada yang tahu akan bagaimana istiwa’nya selain Dia.

Dan bukanlah maknanya menguasai kerajaan, sebagaimana anggapan orang-orang yang sesat yang mereka mengingkari hakikat dari sifat yang Allah sifatkan bagi Dirinya, dan yang disifatkan oleh Rasulnya, karena anggapan bahwa jika mereka menetapkan sifat Allah atas hakikatnya, mereka menyerupakannya dengan makhluknya, dan ini merupakan anggapan yang keliru, karena penyerupaan itu adalah jika dikatakan: “dia itu menyerupai begini atau dari sifat-sifat makhluknya.

Adapun menetapkan sifat dari sisi yang layak dengan Allah dengan tidak menyerupakan, mengumpamakan, membagaimanakan, dan meniadakan makna, dan menta’wilkan itu adalah cara yang ditempuh para Rasul yang diikuti oleh ulama salaf shaleh.

Itulah kebenaran yang seharusnya orang yang beriman berpegang teguh dengannya, sekalipun kebanyakan manusia meninggalkannya.

Arsy berada diatas langit, dan Arsy itu merupakan makhluk yang tertinggi dan terluas, Dan Allah berada diatas Arsy ini, Allah bersama seluruh makhluk dengan Ilmu, Pendengaran dan Penglihatannya.

Tidak ada sesuatu urusan makhlukpun yang tersembunyi darinya, dan Allah yang Maha Perkasa mengabarkan bahwa Dia menjadikan malam menutup siang dengan kegelapannya, kemudian siang mengikutinya dengan cepat, Diapun mengabarkan bahwa Dia menciptakan matahari, bulan dan bintangbintang, semuanya tunduk dan berjalan diatas peredarannya dengan perintah Allah.

Dan Allah mengabarkan juga bahwa hanya baginya urusan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini, Dia yang Maha Sempurna, Dzat dan sifat-sifatnya, yang memberikan kebaikan yang banyak dan terus-menerus, dan Dialah Rabb alam semesta yang menciptakan dan memelihara mereka dengan nikmatnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَا لنَّهَا رُ وَا لشَّمْسُ وَا لْقَمَرُ ۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَا سْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Wa min aayaatihil-lailu wan-nahaaru wasy-syamsu wal-qomar, laa tasjuduu lisy-syamsi wa laa lil-qomari wasjuduu lillaahillazii kholaqohunna ing kungtum iyyaahu ta’buduun.”

Artinya:

Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat 41: Ayat 37)

Makna ayat yang mulia ini adalah:

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa diantara tanda yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya adalah:

Malam dan siang, matahari dan bulan dan Allah melarang untuk sujud kepada matahari, dan bulan karena keduanya adalah makhluk sebagaimana makhluk yang lainnya, makhluk itu tidak layak untuk diibadahi, sedangkan sujud termasuk jenis ibadah.

Dan pada ayat ini Allah memerintahkan manusia, sebagaimana memerintahkan yang lain, supaya mereka hanya bersujud kepada-Nya saja, karena Dialah Pencipta, Pengatur yang berhak diibadahi.

Bukti kedua: Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan

Keberadaan perempuan dan lelaki adalah sebagai bukti akan adanya Allah.

Bukti ketiga: Perbedaan bahasa dan wama kulit

Tidak pernah didapati dua orang yang suaranya satu atau warna kulitnya sama, tapi pasti ada perbedaan antara keduanya.

Bukti keempat: Perbedaan nasib

Yang ini kaya, yang ini miskin, yang ini pemimpin dan yang itu yang dipimpin (rakyat) padahal mereka semuanya sama-sama memiliki akal, pikiran dan ilmu.

Manusia menginginkan sesuatu yang tidak bisa dicapai, seperti kaya, kemuliaan, istri yang cantik, namun tidak ada seorangpun yang mampu mencapai sesuatu kecuali yang telah di takdirkan Allah untuknya, hal itu karena hikmah yang besar yang telah dikehendaki Allah Subahanahu wa taala.

Baca Juga  Surah Al Humazah

Dan diantara hikmah perbedaan nasib adalah menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dan agar sebagian manusia menjadi pelayan bagi sebagian yang lain sehingga tercipta keseimbangan hidup bagi semua manusia.

Dan bagi yang tidak ditakdirkan oleh Allah bernasib baik didunia, Allah mengabarkan bahwa Dia akan memberikan kepada mereka keberuntungan yang lebih baik, yaitu kenikmatan di surga jika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah.

Sungguh pun demikian Allah telah memberi orang fakir suatu keistemewaan yang bisa dinikmati jiwa dan kesehatan, yang kebanyakan tidak didapatkan oleh orang-orang yang kaya dan ini merupakan kebijaksanaan dan keadilan Allah .

Bukti kelima: Tidur dan mimpi

Tidur dan mimpi benar yang Allah tampakkan didalamnya kepada orang yang tidur suatu perkara ghaib sebagai berita gembira atau peringatan.

Bukti keenam: Keberadaan ruh

Keberadaan ruh dimana tidak ada yang mengenal hakikatnya selain Allah saja.

Bukti ketujuh: Manusia

Manusia, berikut anggota tubuhnya berupa panca indra, urat saraf, otak, alat pencernaan dan selainnya.

Bukti kedelapan: Allah menurunkan hujan

Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus lalu muncul tumbuh-tumbuhan serta pepohonan beraneka ragam bentuk, corak, manfaat dan rasanya.

Ini merupakan sedikit diantara ratusan bukti yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an dan yang Dia kabarkan bahwa semua itu merupakan bukti kuat akan eksistensi Allah dan bahwa Dialah Pencipta sekaligus Pengatur seluruh makhluk yang ada.

Bukti kesembilan: Fitrah yang Allah ciptakan pada manusia

Fitrah yang Allah ciptakan pada manusia mengakui akan eksistensi Allah sebagai Pencipta dan Pengaturnya. Siapa yang mengingkari hal itu berarti dia hanya mencelakakan dirinya sendiri.

Orang atheis misalnya, hidup di dunia ini dalam keadaan celaka sedang tempat kembalinya kelak setelah kematian adalah neraka sebagai balasan mendustakan Rabbnya yang telah menciptakan dirinya dari awalnya tidak ada dan memeliharanya dengan berbagai nikmat. Kecuali kalau dia mau bertaubat dan beriman kepada Allah, agama serta Rasul-Nya.

Bukti kesepuluh: Keberkahan

Keberkahan, yaitu: pertambahan yang cepat pada sebagian makhluk, seperti; kambing. Sebaliknya kegagalan reproduksi pada sebagian binatang, seperti; anjing dan kucing.

Diantara sifat Allah Ta’ala adalah ada-Nya tanpa permulaan, Hidup terus menerus, tidak akan mati dan tidak akan berakhir, Maha Kaya, berdiri sendiri, tidak membutuhkan yang lain serta Maha Esa tanpa sekutu.

Allah Ta’ala berfirman:

‘‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS.Al Ikhlas ayat1-4)

Makna ayat:

Tatkala orang-orang kafir bertanya kepada Rasulullah, tentang sifat Allah maka Allah menurunkan surat ini seraya memerintahkan kepada beliau untuk menyatakan kepada mereka, Allah itu Esa tidak ada sekutu baginya.

Allah itu Dia-lah Yang Maha Hidup Abadi lagi Maha Mengatur. Baginya semata kekuasaan mutlak atas alam semesta, manusia dan segala sesuatu. Hanya kepadanya saja seluruh manusia wajib kembali dalam rangka memenuhi segala kebutuhan mereka.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak benar Dia mempunyai putra atau putri, ayah atau ibu. Bahkan Dia sangat menafikan itu semua dari diriNya dalam surat ini demikian pula pada surat yang lain. Sebab berketurunan dan beranak pinak merupakan sifat makhluk.

Allah telah membantah ucapan kaum Nasrani: “Al Masih itu anak Allah” dan ucapan kaum Yahudi: “Uzair itu anak Allah. Serta ucapan yang menyatakan: “Malaikat putri Allah” dan Dia mengecam keras ucapan bathil ini.

Allah mengabarkan bahwa Dia menciptakan Al masih Isa dari seorang ibu tanpa ayah dengan kuasaNya sebagaimana Dia menciptakan Adam bapak manusia dari tanah. Sebagaimana pula Dia menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam lalu tiba-tiba Adam melihat Hawa telah berada di sampingnya.

Kemudian menciptakan anak keturunan Adam dari air mani laki- laki dan perempuan. Allah menciptakan segala sesuatu dari mulanya tidak ada. Dan setelah itu Dia menciptakannya sesuai dengan sunnah dan aturan yang telah Dia tetapkan bagi semua makhluk-Nya, dan tak seorangpun mampu merubahnya.

Jika Allah menghendaki merubah aturan ini maka Dia ubah sesuai kehendak-Nya sebagaimana Dia mewujudkan Isa ‘alaihissalam dari seorang ibu tanpa bapak.

Sebagaimana Dia menjadikan Isa mampu berbicara di buaian sebagaimana pula Dia merubah tongkat Musa ‘alaihis salam menjadi seekor ular yang bergerak-gerak. Tatkala Musa memukulkan tongkat tersebut ke laut maka lautpun terbelah dan menjadi sebuah jalan yang bisa dilewati Musa beserta kaumnya.

Sebagaimana Allah mampu membelah bulan sebagai mukjizat penutup para Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan pohon bisa mengucapkan salam kepada beliau ketika melewatinya. Dia menjadikan hewan bersaksi atas kerasulan beliau di hadapan beliau dengan suara yang bisa didengar manusia.

Hewan itu berkata: Aku bersaksi engkau utusan Allah. Beliau pernah diperjalankan di atas Buraq dari masjid Haram ke masjid Al Aqsa. Kemudian beliau dimi’rajkan ke langit ditemani malaikat Jibril hingga sampai ke langit.

Lalu Allah ta’ala berbicara kepada beliau dan mewajibkan shalat atas beliau. Kemudian kembali ke masjid Al Haram di bumi. Beliau melihat di perjalanan para penghuni langit. Semua itu terjadi hanya dalam tempo semalam sebelum terbit fajar. Kisah Isra” Mi’raj ini masyhur baik di Al Qur’an, hadits maupun buku- buku sejarah.

Diantara Sifat Allah SWT

Mendengar, melihat, ilmu, qudrah (kuasa), iradah (kehendak). Dia mendengar dan melihat segala sesuatu. Tidak ada hijab apapun yang menghalang-halangi pendengaran dan penglihatannya.

Allah mengetahui apa yang ada di dalam rahim dan apa yang tersembunyi dalam dada, apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Dialah yang Maha Kuasa lagi Maha berkehendak yang jika menghendaki sesuatu tinggal berkata: “Kun” (Jadilah) maka terjadi.

Diantara sifat Allah Ta’ala yang Dia sifatkan untuk diri-Nya:

Berbicara sesuai apa yang dikehendakinya dan kapan saja Dia berkehendak. Allah telah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam berbicara kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al Qur’an merupakan kalam Allah baik huruf maupun maknanya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi ia merupakan satu sifat diantara sifat-sifatnya. Bukan makhluk sebagaimana yang dikatakan kelompok Mu’ta-ilah yang sesat.

Baca Juga  Surah Al Ikhlash

Diantara sifat Allah Ta’ala yang Dia sifatkan bagi diri-Nya dan disifatkan pula oleh Rasulnya:

Wajah, dua tangan, istiwa’ (bersemayam), turun, ridha dan marah. Allah ridha terhadap hamba-hambanya yang mukmin dan murka terhadap orang-orang kafir serta orang-orang yang mengerjakan hal-hal yang mengakibatkan murkaNya. Ridha dan murka-Nya sebagaimana sifat-sifat yang lain, tidak serupa dengan sifat makhluk, tidak boleh dita’wilkan dan dijelaskan kaifiyyatnya.

Dinyatakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah bahwa orang-orang mukmin kelak melihat Allah ta’ala dengan mata kepala di padang mahsyar dan di surga. Sifat-sifat Allah ta’ala disebutkan secara rinci dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Rasul, maka hendaknya anda merujuk kepadanya.

Tujuan Allah Menciptakan Manusia dan Jin

Jika anda telah mengenal wahai orang berakal bahwa Rabbmu yang telah menciptakanmu. Maka ketahuilah bahwa Allah tidaklah menciptakan anda sia-sia begitu saja. Akan tetapi Dia menciptakan anda supaya anda beribadah kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun,”

Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat Ayat 56)

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

“Maaa uriidu min-hum mir rizqiw wa maaa uriidu ay yuth’imuun,”

Artinya: Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat Ayat 57)

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّا قُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

“Innalloha huwar-rozzaaqu zul-quwwatil-matiin,”

Artinya: Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Az-Zariyat Ayat 58)

Makna Ayat ini adalah Allah ta’ala memberitahukan pada ayat pertama bahwa Dia menciptakan jin dan manusia supaya mereka menyembahnya semata. Lalu pada ayat kedua dan ketiga Allah memberitahukan bahwa Dia Maha Kaya tidak membutuhkan hambanya.

Tidak menghendaki sedikitpun rizki maupun makanan dari mereka. Karena Dia Maha Pemberi rizki lagi Maha Kuat dimana tidak ada rizki bagi manusia maupun selainnya melainkan berasal dari-Nya. Dialah yang menurunkan hujan dan mengeluarkan rizki dari bumi.

Adapun makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah.

Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing- masing menurut kadar ilmunya.

Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hambaNya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhainya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati.

Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya.

Kebangkitan Setelah Mati, Hisab, Pembalasan Amal Perbuatan, Surga dan Neraka

Allah menciptakan manusia supaya beribadah kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah memberitahukan dalam seluruh kitab yang Dia turunkan kepada para Rasul-Nya bahwa Dia akan membangkitkan anda setelah mati. Lalu memberi ganjaran amal perbuatan anda di akhirat setelah mati.

Hal ini dikarenakan, lewat kematian, manusia berpindah dari negeri tempat beramal nan fana yakni kehidupan ini, menuju negeri pembalasan nan abadi, yaitu kehidupan setelah mati.

Jika masa yang Allah tentukan untuk manusia hidup telah sempuma maka Allah menitahkan malaikat maut untuk mencabut ruhnya sendiri dari jasadnya, lalu iapun mati setelah sebelumnya merasakan sakitnya kematian di saat ruh keluar dari jasad.

Ruh

Adapun ruh, maka Allah menempatkannya di negeri penuh kenikmatan (surga) jika ruh tersebut beriman dan taat kepada Allah. Dan jika ruh itu kafir kepada Allah, mendustakan hari kebangkitan dan pembalasan, maka Allah menempatkan ruh tersebut di negeri azab (neraka).

Sampai tiba masa akhir dunia yang dijanjikan lalu terjadilah Kiamat. Maka semua makhluk yang ada mati dan yang tinggal hanyalah Allah semata. Kemudian Allah membangkitkan seluruh makhluk dan dikembalikan semua ruh kepada jasadnya masing-masing.

Setelah Allah mengembalikan jasad dengan sempurna sebagaimana Dia ciptakan pada awal mula. Hal itu dalam rangka Allah menghisab manusia, lalu memberikan balasan kepada mereka atas amal perbuatannya, baik laki maupun perempuan, pemimpin maupun rakyat, yang kaya dan yang miskin tanpa menzalimi seorangpun.

Hukum balas

Dia mengqishash (hukum balas) bagi yang terzalimi terhadap yang mendzalimi. Sampai- sampai hewan dibalaskan dari yang menzaliminya. Dia balaskan bagi sebagian terhadap sebagian yang lain kemudian berfirman kepada hewan: “Jadilah kamu tanah” karena hewan tidak masuk surga maupun neraka.

Balasan bagi manusia dan jin

Allah memberikan balasan bagi manusia dan jin masing-masing sesuai amal perbuatannya. Lalu Dia memasukkan orang-orang mukmin yang mentaati-Nya dan mengikuti Rasul-Nya ke dalam surga sekalipun mereka itu orang paling fakir. Dan memasukkan orangorang kafir yang ingkar ke dalam neraka, sekalipun mereka itu orang kaya dan berkedudukan di dunia.

Surga

Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan. Didalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tak seorangpun mampu menggambarkannya. Di dalam surga terdapat seratus derajat. Setiap derajat mempunyai penghuni menurut kadar keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah. Derajat terendah di surga ialah penghuninya diberi kenikmatan 70 kali lipat melebihi kenikmatan raja termewah di dunia.

Neraka

Neraka ialah tempat penuh azab di akhirat setelah mati. Di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan dan hukuman yang bisa menimbulkan rasa takut yang dahsyat di hati dan mata menangisjika dikisahkan.

Sekiranya kematian didapati di kampung akhirat niscaya matilah penghuni neraka dengan sekedar melihatnya. Akan tetapi kematian itu hanya sekali saja sebagai sarana manusia pindah dari kehidupan dunia menuju akhirat.

Di dalam Al Qur’an disebutkan secara rinci tentang kematian, kebangkitan dan hisab (penghitungan amal perbuatan), pembalasan, surga dan neraka serta semua yang kami sebutkan tadi.

Dalil-dalil adanya kebangkitan setelah mati, hisab dan pembalasan teramat banyak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Baca Juga  30+ Doa Sehari Hari Dalam Islam

مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَا رَةً اُخْرٰى

“Min-haa kholaqnaakum wa fiihaa nu’iidukum wa min-haa nukhrijukum taarotan ukhroo.”

Artinya:

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS. Ta-Ha Ayat 55)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ لَـنَا مَثَلًا وَّ نَسِيَ خَلْقَهٗ ۗ قَا لَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَا مَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

“Wa dhoroba lanaa masalaw wa nasiya kholqoh, qoola may yuhyil-‘izhooma wa hiya romiim,”

Artinya:

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” (QS. Ya-Sin Ayat 78)

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْۤ اَنْشَاَ هَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمُ

“Qul yuhyiihallaziii angsya-ahaaa awwala marroh, wa huwa bikulli kholqin ‘aliim,”

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,” (QS. Ya-Sin Ayat 79)

زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنْ لَّنْ يُّبْـعَـثُـوْا ۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَـتُبْـعَـثُـنَّ ثُمَّ لَـتُنَـبَّـؤُنَّ بِمَا عَمِلْـتُمْ ۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Za’amallaziina kafaruuu al lay yub’asuu, qul balaa wa robbii latub’asunna summa latunabba-unna bimaa ‘amiltum, wa zaalika ‘alallohi yasiir,”

Artinya:

Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. At-Taghabun Ayat 7)

Makna Ayat adalah:

Pada ayat pertama Allah ta’ala memberitakan bahwa Dia menciptakan manusia mulanya dari tanah. Yaitu ketika menciptakan bapak mereka, Adam dari tanah. Kemudian Dia memberitakan akan mengembalikan manusia ke dalam tanah setelah mati yakni di dalam kubur sebagai kemuliaan bagi mereka.

Lalu Dia memberitakan akan mengeluarkan mereka pada waktu yang lain sehingga manusia keluar hidup-hidup dari kuburnya dari manusia pertama hingga yang paling akhir. Kemudian Allah menghitung amal perbuatan mereka dan memberinya balasan.

Pada ayat kedua Allah membantah orang kafir yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati dimana menganggap mustahil tulang belulang bisa hidup kembali setelah hancur luluh. Allah membantah orang kafir tersebut dengan memberitakan bahwa Dia akan menghidupkan tulang belulang itu karena Dialah yang telah menciptakannya kali pertama dari sebelumnya tidak ada.

Pada ayat ketiga Allah membantah orang-orang kafir yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati bahwa mereka telah salah sangka.

Dia memerintahkan Rasulnya supaya bersumpah kepada mereka dengan nama Allah untuk menunjukkan keseriusan bahwa Allah pasti akan membangkitkan mereka dan akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat, lalu memberi balasan kepada mereka atas perbuatan tersebut. Dan semua itu amatlah mudah bagi Allah.

Pada ayat lain Allah memberitakan bahwa apabila Dia telah membangkitkan orang-orang yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati dan adanya neraka, Dia akan siksa mereka di neraka Jahanam seraya dikatakan kepada mereka:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ مَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰٮهُمُ النَّا رُكُلَّمَاۤ اَرَا دُوْۤا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَاۤ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَ قِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَا بَ النَّا رِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ

“Wa ammallaziina fasaquu fa ma-waahumun-naaru kullamaaa arooduuu ay yakhrujuu min-haaa u’iiduu fiihaa wa qiila lahum zuuquu ‘azaaban-naarillazii kungtum bihii tukazzibuun,”

Artinya:

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat kediaman mereka adalah Neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab Neraka yang dahulu kamu dustakan. (QS. As-Sajdah Ayat 20)

Amal Perbuatan dan Perkataan Manusia Dicatat

Allah ta’ala telah memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang akan diucapkan dan diperbuat setiap manusia baik maupun buruk, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Allah mengabarkan bahwa Dia telah mencatat semua itu di Lauh Mahfudz di sisi-Nya sebelum diciptakan-Nya langit dan bumi, manusia serta lainnya.

Allah mengabarkan bahwa selain itu Dia juga telah menugaskan kepada setiap manusia dua malaikat, salah seorang berada di sebelah kanan guna menulis amal perbuatan baik, dan yang lainnya berada di sebelah kiri guna menulis amal perbuatan buruk. Tidak ada sedikitpun yang luput.

Allah ta’ala mengabarkan bahwa di hari penghitungan kelak setiap manusia akan dibagikan buku yang tercatat didalamnya semua perkataan dan amal perbuatannya. Lalu ia membacanya tanpa mengingkarinya sedikitpun.

Siapa yang coba-coba mengingkari maka Alllah perintahkan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki dan kulitnya untuk berbicara tentang seluruh apa yang dia perbuat.

Di dalam Al Qur’an hal itu dijelaskan secara rinci. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Maa yalfizhu ming qoulin illaa ladaihi roqiibun ‘atiid,”

Artinya:

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf Ayat 18)

وَاِ نَّ عَلَيْكُمْ لَحٰـفِظِيْنَ

“Wa inna ‘alaikum lahaafizhiin,”

Artinya:

Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). (QS. Al-Infitar Ayat 10)

كِرَا مًا كَا تِبِيْنَ

“Kiroomang kaatibiin,”

Artinya:

Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). (QS. Al-Infitar Ayat 11)

يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

“Ya’lamuuna maa taf’aluun,”

Artinya:

Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Infitar Ayat 12)

Uraian Ayat sebagai berikut:

Allah subhaanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia menugaskan untuk setiap manusia dua malaikat. Seorang berada disebelah kanan menulis amal perbuatan baik, sedang yang lain berada di sebelah kiri menulis amal perbuatan buruk.

Allah mengabarkan dalam dua ayat terakhir bahwa Dia menugaskan untuk manusia malaikat-malaikat mulia yang menulis seluruh perbuatan mereka dan mengabarkan bahwa Dia menciptakan bagi mereka kemampuan mengetahui seluruh perbuatan manusia berikut menulisnya sebagaimana yang telah diketahui dan ditulis di Lauh Mahfudz sebelum mereka diciptakan.

Syahadat (Persaksian)

Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Alah. Aku bersaksi bahwa surga itu benar, neraka itu benar.

Kiamat itu akan tiba tiada keraguan lagi. Allah akan membangkitkan semua yang ada di kubur untuk dihisab amal perbuatannya dan diberi balasan.

Semua yang dikabarkan Allah dalam kitabnya atau melalui lisan Rasulnya adalah benar. Saya mengajak anda, wahai orang yang berakal untuk beriman kepada persaksian ini, mengumandangkan dan mengamalkan maknanya. Inilahjalan keselamatan.